PENDAHULUAN

Indonesia sejak lama telah dikenal sebagai area yang subur karena kawasan vulkanis yang tersebar secara meluas hampir di seluruh wilayahnya. Pada zaman dahulu, Pulau Sumatera dan Pulau Jawa dikenal sebagai svarna dipa dan java dipa, ladang emas dan ladang makanan. Hal ini disebabkan oleh karena begitu banyaknya area vulkanis yang tersebar di sepanjang sisi barat Pulau Sumatera dan sisi selatan Pulau Jawa. Yang secara geologis dikenal sebagai Lempeng Gunung Berapi Asia.

Sebagai akibatnya, terjadi migrasi secara besar-besaran, terutama pada masa-masa perang di daerah Asia Tengah, ke daerah Sumatera dan Jawa, sehingga terjadi ledakan populasi yang secara perlahan tapi pasti, mempergunakan area yang produktif untuk area pertanian. Dengan rasio lahan pertanian terhadap hunian yang semakin berkurang, semakin banyak pemikiran untuk mengoptimalkan pemakaian lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk yang semakin meningkat.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah demi mencapai kecukupan suplai pangan seiring dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, salah satunya adalah Program Identifikasi Pertanian. Dalam program ini, pemakaian lahan secara optimal adalah kuncinya. Beragam upaya dilakukan, salah satunya adalah pemakaian pupuk untuk membantu meningkatkan volume produksi serta penggunaan bibit unggul tanaman unggulan.

PUPUK

Secara devinitif, pupuk biasa diartikan sebagai bahan atau zat artificial yang di pergunakan untuk menstimulasi pertumbuhan tanaman terhadap kondisi idealnya. Pada dasarnya tanah menyediakan bahan yang diperlukan tanaman untuk bertumbuh, seperti mineral ferrous dan berbagai mineral lainnya semacam fosfat dan kalsium, di samping gas untuk fotosintesa.

Akibat proses taman yang berlangsung secara repetitif dan terus menerus, tanah mengalami proses demineralisasi atau berkurangnya unsur-unsur mineral yang di perlukan untuk pertumbuhan. Akibatnya tanah memerlukan proses remineralisasi agar prosesnya tetap konstan.

Di dunia, dikenal pupuk kimia seperti Urea dan NPK yang berfungsi lebih kepada stimulant untuk produksi tanpa mengembalikan kandungan mineral dalam tanah, bahkan cenderung berpotensi merusak kondisi tanah, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk me-remineralisasi tanah.

Di Amerika dan Eropa, yang memiliki lahan pertanian yang sangat terbatas, telah memulai pemakaian pupuk mineral atau lebih dikenal dengan Trace Elements, yang terdiri dari Mineral Mikro (Pendamping) di samping Mineral Makro (Utama). Pupuk ini memiliki kemampuan me-remineralisasi tanah secara luar biasa, dan biasa di campurkan baik dengan pupuk kimia dan pupuk organik. Bahan dasar pupuk ini adalah abu vulkanis yang kaya akan mineral.

PUPUK MINERAL

Dari penelitian secara intensif, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan Pupuk Mineral yang sama dengan yang dikembangkan oleh Amerika dan Eropa. PT KARUNIA SEMESTA RAYA berhasil me-utilisasi-kan batuan tembaga menjadi pupuk mineral, setara dengan Pupuk Mineral produksi Amerika.

Berikut adalah perbandingan kandungannya :

Kandungan Mineral
Pupuk T2
Merk USA
Phospat ( % )
0,15
0,15
Kalium ( % )
0,5
5,23
Kalsium ( % )
2,7
3,67
Sulfur ( ppm )
250
240
Magnesium (% )
0,5
0,78
Boron ( ppm )
30
29
Klor ( % )
0,01
0,22
Mangan ( % )
0,05
0,02
Besi ( % )
3
1,37
Seng ( ppm )
36
64,3
Tembaga ( ppm )
31
12
Molibdenum ( ppm )
2
12,5
Selenium ( ppm )
5
0,7
Lanthanum ( ppm )
8
220
Galium ( ppm )
15
15
Kobalt ( ppm )
15
22,3
Berdasarkan penelitian dari berbagai sumber, pupuk mineral ini berfungsi untuk :
  • meningkatkan produktifitas tanaman
  • stimulasi proses fotosintesa
  • mengurangi pemakaian pupuk kimia
  • me-remineralisasi tanah

Bahkan secara jangka panjang, berdasarkan penelitian di Amerika, Pupuk Mineral ini mampu mengurangi penggunaan NPK dan Urea secara signifikan. Akibatnya, margin vegetator naik secara signifikan karena berkurangnya biaya pupuk. Pupuk mineral ini tidak hanya berguna untuk tanaman, tapi juga mampu membantu pertumbuhan hewan ternak, seperti ayam, bahkan udang.
Copyright© 2011 Karunia Semesta Raya. All rights reserved.